xV48SumGkxZ77YEVQSlOkGjaDN8TRxD5VskWgoRm

Cari...

Laporkan Penyalahgunaan

Antara Tiwul dan Gadis Kretek: Cerita Literasi di Lapak Jalanan CFD Temanggung


Remaja perempuan bernama Raesa sedang fokus membaca novel Gadis Kretek di lapak Perpus Jalanan Temanggung.
Raesa sedang membaca novel Gadis Kretek yang digelar Lapak Perpus Jalanan di CFD Alun-Alun Temanggung (Kultur.id)


TEMANGGUNG - Aroma tiwul yang mengepul hangat di udara pagi Temanggung biasanya hanya mengundang lapar. Namun, di salah satu sudut Alun-Alun daerah berjuluk Kota Tembakau ini, bau singkong rebus itu berkelindan dengan aroma kertas dan imajinasi. Di tengah riuh rendah langkah kaki para pelari pagi dan tawar-menawar pedagang kaki lima, dunia seolah berhenti di tangan Raesa.

Gadis berusia 13 tahun itu tampak tenang duduk di bangku cor beton tribun barat Alun-Alun Kabupaten Temanggung. Kepalanya menunduk, sorot matanya tak pernah lepas dari sebuah buku bersampul biru turkuas yang menonjolkan sosok perempuan berkebaya hijau muda sedang memegang sebatang rokok.

Hampir seperempat tebalnya novel karya Ratih Kumala berjudul Gadis Kretek itu sudah ia lahap. Raesa, siswi SMPN 4 Temanggung, mungkin tak ingat persis kapan ia mulai jatuh cinta pada kisah Dasiyah yang fenomenal itu—kisah yang kini populer melalui serial orisinal Netflix. Namun yang pasti, ia menemukan "keajaiban" itu di Perpus Jalanan Temanggung.

Menjaga Literasi di Sela Lapak Jajanan

Setiap hari Minggu di area Car Free Day (CFD), Raesa setia menemani ibunya berjualan jajanan pasar tradisional seperti tiwul hingga ketan lupis. Lokasi ibunya berjualan hanya berjarak 10 meter dari lapak buku.

"Saya memang suka baca novel. Sembari mengisi waktu luang ibu jualan tiwul, saya biasanya baca buku di lapak Perpus Jalanan Temanggung. Ini melanjutkan membaca halaman di CFD sebelumnya," ujar Raesa lembut.

Di sampingnya, sang adik lelaki juga asyik dengan dunia komiknya. Pemandangan ini adalah oase di tengah pusat keramaian. Bermodalkan spanduk hitam putih dan selembar kertas bertuliskan "BACA BUKU GRATIS", Perpus Jalanan Temanggung membuktikan bahwa literasi bisa hadir tanpa sekat tembok gedung yang kaku.

Perjalanan "Mati Suri" dan Kebangkitan

Gerakan Membaca Buku Gratis (MBG) ini bukanlah pemain baru. Tatag Candrayana, pengelola Perpus Jalanan Temanggung, mengungkapkan bahwa komunitas mandiri ini sudah menghidupi literasi sejak 2018. Namun, badai pandemi COVID-19 sempat membuat mereka "mati suri" selama hampir tiga tahun.

"Kami terpaksa vakum karena pandemi. Tapi sejak September 2025 lalu, kami kembali hadir menyapa warga," tutur Tatag saat ditemui di sela kegiatan CFD (4/1/2026).

Kini, setiap Minggu pukul 07.00 hingga 13.00 WIB, mereka kembali menggelar lapak. Koleksinya beragam, dari buku anak-anak hingga literasi dewasa. Tak hanya membaca, anak-anak juga bisa mewarnai gambar secara gratis dan membawa pulang hasilnya.

Melawan Arus "Kultur" di CFD Temanggung

Mengapa harus di CFD? Alun-Alun Temanggung adalah jantung kota alias titik kumpul massa setiap hari Minggu pagi. Di depan Rumah Dinas Bupati Temanggung atau populer disebut Pendopo Pengayoman, ratusan orang hingga pedagang kaki lima tumpah ruah. Ada yang lari pagi, jalan-jalan bersama keluarga tercinta, ada yang sekadar pamer foto euforia Tahun Baru 2026 di medsos, dan ada juga yang antre berburu kuliner.

Di sinilah Perpus Jalanan mengambil peran untuk melawan arus. Tatag dan kawan-kawan dari lapak Perpus Jalanan Temanggung ingin menunjukkan kalau di tengah ramainya orang berburu kuliner, kita masih bisa nyempetin waktu sebentar buat nambah ilmu lewat bacaan buku gratis.

"Banyak orang yang datang ke CFD itu berbondong-bondong untuk jajan. Harapan kami, mereka datang tidak hanya untuk jajan, tetapi juga menyempatkan untuk membaca atau mencari pengetahuan baru. Doakan kami terus konsisten," tutup Tatag.


Related Posts

Related Posts

Posting Komentar